Kemah Sastra IV “Literasi Lokal di Antara Yang Global”

Kemah Sastra IV: Komunitas Lereng Medini bekerjasama dengan milis Apresiasi Sastra (APSAS) serta dibantu beberapa pihak akan kembali menggelar Kemah Sastra di Kebun Teh Medini Ngesrep Balong Limbangan Kendal pada 4-6 Mei 2018.

Baca lebih lanjut

Iklan

Superstruktur Gramsci dan Ekonomi Orde Baru

Belakangan ini saya sempat menanyakan pertanyaan yang berbau komparatif kepada seorang teman yang telah banyak pengalaman. Kira-kira seperti ini bunyinya: “Pak lebih enak mana, hidup jaman Orde Baru atau sekarang?”. Dan hampir semua yang saya tanyai kompak memilih jawaban: nikmat ketika masa Orde Baru. Lalu ketika saya meminta penegasan, jawaban tersebut bersumber karena murahnya bahan sembako dan alasan keamanan yang lebih kondusif.

Memang saya sendiri tak sempat merasakan era Orde Baru ketika masih di puncak singgasana, saya hanya mencicipi akhir reruntuhan rezim ini, dan bagi saya ini lebih dari cukup. Kebanyakan saya mengetahui tentang bagaimana keadaan Indonesia ketika era Orde Baru didapat dari beragam literatur, dan semua literatur yang saya baca hampir selalu bertegangan dengan jawaban orang-orang yang saya tanyai tadi.

Hal itulah yang membuat saya penasaran, mengapa ada kontradiksi yang begitu kontras antara jawaban A dan jawaban B. Semacam terdapat dua versi kebenaran yang memiliki pendukung nya masing-masing dan saling klaim bahwa jawaban nya adalah yang paling benar, seperti adanya ruang kosong yang memisahkan mereka tentang apa yang terjadi dibalik fenomena “kemakmuran” tersebut.

Hal tersebut pula yang selalu membuat saya mempertanyakan apakah betul-betul nikmat hidup di jaman Orde Baru? Kalaupun iya, sungguh sial saya hidup di masa Indonesia yang sedang rudin sekali ini. Kebanyakan jawaban yang terlontar ketika mendengar Orde Baru adalah keamanan tingkat tinggi dengan tahapan prosedurial yang sembarangan. Baca lebih lanjut

Pramoedya Dan Indonesia: Cinta Tapi Tak Bodoh

Hanya seorang Pramoedya yang sampai saat ini mampu menulis hampir 2000 halaman tentang kebangkitan sebuah nasion yang baru tanpa menuliskan satupun kata Indonesia, hanya Pramoedya yang hampir saja menjadi orang Indonesia pertama yang memenangkan Nobel Kesusasteraan jika tidak dihalagi oleh rezim Harto. Ya, hanya Pramoedya. Pramoedya adalah legenda.

Pramoedya kini memang telah tiada, praktis sudah dua belas tahun sastrawan terbesar Indonesia ini mangkat dan meninggalkan Bumi Manusia yang sudah ia dokumentasikan dalam empat buku dahsyat pemantik tindakan pembebasan nan revolusioner. Dalam setiap karyanya, Indonesia selalu mendapat khusus dalam isi pikiran Pramoedya, bisa dikatakan bahwa Pramoedya adalah seorang Indonesianis sejati.

Indonesia merupakan sesuatu yang sangat eksotik apabila tidak dibicarakan oleh Pramoedya, baginya Indonesia tak ubahnya seperti ladang penuh imaji-imaji yang sangat mungkin untuk dideskripsikan melalui kata-kata. Hampir seluruh karya Pramoedya berfokus tentang Indonesia, entah itu berkisar tentang awal mula terbentuknya, proses perjalanan nya hingga intrik-intrik di dalamnya. Baca lebih lanjut

Alain Badiou: Dari Maois Sampai Matematis

Dalam sebuah kesempatan, Zizek pernah menunjukkan salah satu paradoks filsafat. Zizek berkata bahwa ketika seseorang mempelajari filsafat tidak perlu membaca secara keseluruhan. “Kamu tidak perlu membaca terlalu banyak, itu hanya membuatmu bingung.” pungkas psikoanalis asal Slovenia itu.

Diktum tersebutlah yang menjadi landasan filosofis saya untuk sekedar menguraikan pemikiran Alain Badiou, salah satu pemikir Marxis kontemporer kelahiran Prancis. Disini saya mencoba menjelaskan tentang pemikiran Badiou khususnya mengenai kelahiran Marxisme versinya. Penjabaran ini sama sekali tidak menyinggung konteks historis kelahiran filsafat Badiou.

Kiranya perlu sedikit mengenalkan siapa sosok Badiou. Lahir dengan nama Alain Badiou, sama seperti masyarakat Prancis pada umumnya, ia pun merupakan seorang yang menjadikan Prancis sebagai tanah airnya yang kedua. Badiou seangkatan dengan Antonio Negri, Slavoj Zizek dan Jacques Lacan sebagai anggota Marxis kontemporer yang terkenal. Baca lebih lanjut

Mimpi Buruk Seorang Kutu Buku

Membaca adalah membunuhmu. Itulah pendapat teman saya di salah satu akun media sosial perusak seni fotografi. Awalnya saya kebingungan, maksudnya apa ini teman saya kok secara serampangan mengumpat dengan sebegitu lancangnya. Tapi, setelah selesai melahap Rumah Kertas semua menjadi terang oleh secercah pemikiran baru. Termasuk maksud dari diktum teman saya itu tadi.

Terobsesi pada kecantikan atau ketampanan? Suatu hal yang lumrah dan biasa-biasa aja. Terobsesi pada kekayaan? Itu memang tujuan hidup kita bersama bukan. Nah, kalau terobsesi pada buku? Apa pula yang dirasa, apa tidak ada hal lain yang bisa menjadi tempat bersemayam nya rasa kasih sayang kita. Terobsesi pada buku adalah hal yang tidak jelas, abstrak seperti lukisan Vincent van Gogh. Terobsesi pada buku paling hanya dalih untuk menutupi keheningan hidup kita.

Carlos Maria Dominguez pernah berujar bahwa buku adalah pengubah nasib seseorang, maka tak heran apabila sekarang ini masih banyak yang rela menjadi korban-korban buku. Mungkin beberapa hari kedepan akan bertambah banyak jumlahnya. Nilai praktis yang paling mudah dilihat adalah buku dengan ajian tidak terduga nya mampu mentransformasikan seseorang yang tadinya bebal menjadi sedikit berisi. Baca lebih lanjut

Gabriel Garcia Marquez Dan Hal-Hal yang Ingin Disampaikan Pada Kita

Terdapat suatu korelasi antara buku Laughable Loves karya Kundera dengan Memory of My Melancholy Whores karangan Gabriel Garcia Marquez. Sepertinya tidak ada hubungan antara dua penulis ini, bukan karena wilayah geografis saja yang berbeda, melainkan aliran sastra yang mereka geluti pun sangat kontras. Hipotesa yang diajukan Kundera seperti mendapat legitimasi ketika Gabriel Garcia Marquez ingin menutup karir kepenulisan nya, semua benar-benar pas, klik dan sesuai presisi. Tidak kurang, tidak lebih.

Sebelum mengakhiri profesinya sebagai penulis maha segalanya di ranah sastra Amerika Latin, Gabriel Garcia Marquez – selanjutnya disebut Gabo – sama sekali merubah plot cerita yang sudah menjadi ciri khas nya selama berkarir sebagai penulis. Gabo, hampir dalam setiap karyanya, selalu identic dengan aliran realisme magis nya.

Secara singkat, realisme magis adalah aliran sastra yang mencoba menganalisis lalu memberikan pandangan terkait permasalahan-permasalahan sosial yang sedang faktual terjadi, sampai disini memang belum terlihat perbedaan. Keunikan tersebut manakala terpancar ketika medium untuk mengejawantahkan opini terkait permasalahan sosial yang menggunakan perumpaaan yang tidak bisa dinalar. Baca lebih lanjut

Membiaskan Hujan

hujan runtuh membasahi tanah gersang
yang lebur menjadi wewangian sendu
dan bocah-bocah menari luhur dengan riang
tak acuh kuyup yang mendekapnya dalam beku

aku lupa rasanya menjadi tak terpikir
hilang oleh rasa apatis yang menelan
tetapi kini mengambang diantara resah tak berakhir
dan tenggelam bersama kelak kemungkinan

pilihan hanyalah dalih dalam kebahagiaan
menjadi kongsi pembenaran untuk menolak kesepian
dan mungkin, kita tetap merasa sendirian
hingga nanti berjumpa dengan kepastian

Cantik itu Tidak Akan Pernah Relatif

Seringkali dalam sebuah perjumpaan ataupun obrolan dengan kolega, saya mendapati diktum “cantik itu relatif” karena menurut sebagian pihak cinta memang tak bertaraf. Kecantikan diposisikan nisbi, abstrak dan tidak riil. Namun lama kelamaan, anggapan tersebut menemui jalan buntu. Berangkat dari tesis bahwa semua yang mengada di dunia ini sejatinya sudah dikonstrusikan dan dibuat sedemikian rupa, termasuk juga kecantikan.

Secara tidak sadar, kita mempercayai bahwa kecantikan adalah sesuatu yang terberikan secara alamiah. Sama seperti bakat, kecantikan adalah pemberian dari Tuhan kepada makhluk-Nya tanpa bisa diganggu gugat. Namun jika kita mengkaji ulang, kecantikan sekarang ini tak ubahnya seperti sebuah proses, sebuah tujuan yang diinginkan setiap perempuan.

Maka tak heran sekarang perempuan cantik sudah banyak sekali jumlahnya, karena memang kecantikan itu adalah sebuah tujuan bersama – khususnya pihak perempuan. Dengan mengkonsumsi ritual-ritual kecantikan secara berkala, niscaya kecantikan akan datang menghampiri sang perempuan. Baca lebih lanjut

Percikan Pemikiran Hegel dan Feuerbach Dalam Filsafat Marxis

Marx adalah penafsir paling ulung tentang dunia. Seolah-olah ia ditakdirkan untuk menebak jalan pikiran Tuhan mengenai hakikat dunia dan perkembangan nya, namun percaya atau tidak untuk bisa berada dalam posisi yang sedemikian agung tersebut, ternyata Marx masihlah dipengaruhi oleh beberapa tokoh filosof yang lain. Marx sendiri mengakui bahwa ia memang terpengaruh oleh beberapa gagasan filsuf lain.

Perkembangan pemikiran Marx terjadi dalam rentang waktu yang panjang, semenjak Marx muda hingga menua proses akselerasi pemikiran nya tidak pernah berhenti di satu titik nyaman. Ia terus berkembang dikemudian hari. Perkembangan pemikiran tersebut juga nantinya akan berpengaruh pada pendekatan yang dihasilkan Marx, bidang yang akan Marx kritisi sampai analisis yang berimbas pada teori yang Marx temukan.

Namun tak sampai disitu, meskipun ada kalanya Marx belajar dari gagasan-gagasan filsuf lain yang menurutnya baik dan benar, Marx tetap tak luput untuk melayangkan kritik atas gagasan yang ia kagumi. Kritik itulah yang kemudian membawa Marx kepada pengukuhan sebagai seorang teoritis paling berpengaruh, jauh melampaui filsuf yang gagasan nya ia adopsi. Baca lebih lanjut

Perbudakan Seksual dan Bagaimana Memahami Citra Perempuan

“Keada’an lelaki dan perempoean haroes sama rata. Kehendakan ini dimana-mana dibitjarakan dan tertoelis dan sering kali dengan kebentjian dan perkata’an jang tadjam.”

Frasa diatas merupakan penggalan dari materi yang dibawakan oleh Saudari Djojoadigoeno, seorang perwakilan Wanita Oetomo yang hadir dalam Kongres Perempuan Nasional pertama di Yogyakarta. Kongres Perempuan pertama lahir tak jauh dari Sumpah Pemuda, masih ditahun yang sama hanya berbeda bulan. Kongres tersebut berlangsung pada 22-25 Desember 1928.

Di aras tersebut, pemikiran yang diutarakan oleh Saudari Djojoadigoeno sudah maju beberapa langkah. Dengan keterbatasan ruang gerak yang sangat minim yang dialami perempuan pada masa pergerakan nasional, belum lagi struktur masyarakat feodal yang sangat tidak mendukung perempuan untuk keluar dari ranah domestiknya. Baca lebih lanjut