Lima Serpihan Moral

Judul Buku                  : Lima Serpihan Moral

Penulis                         : Umberto Eco

Penerbit                       : Octopus Publishing House

Tahun Terbit               : Cetakan I, 2016

ISBN                              : 978-602-742439-6

Tebal                             : xvi + 154 halaman

Baca lebih lanjut

Iklan

Diskusi Tentang Kehampaan, Realitas dan Ilusi yang Diperlukan

Oleh: Kadek Aswin Yasa dan Kahfi Ananda Giatama

 Ada sebuah pilihan untuk memikirkan hidup atau hanya menjalani hidup; tapi kita memilih untuk memahami hidup. Ya memahami hidup dalam kenyataan bukan menjalani hidup dalam kesemuan”.

Dalam setiap fase kehidupan, tentunya diperlukan suatu perubahan untuk menjadi versi yang lebih baik. Semua yang ada di dunia ini pastilah berubah dan senantiasa akan terus berubah. Makhluk hidup, binatang, sistem atau apapun yang tidak bisa disebutkan satu persatu memang harus berubah. Setidaknya untuk melawan tuntutan zaman.

Zaman kini sudah berubah, satu yang kentara adalah dengan lahirnya Generasi Z. Sebuah generasi baru yang dihasilkan peradaban manusia, terbentang pada periode medio 1990-an hingga sekarang. Menurut spekulasi saya, Generasi Z menjadi kontributor paling masif untuk perihal populasi dunia. Setidaknya untuk saat ini.

Lalu apakah Generasi Z itu sendiri? Sebenarnya, Generasi Z adalah bentuk ekstensi atau penyempurnaan dari generasi terdahulu (Generasi Y atau Milenial). Namun terdapat satu fakta menarik yang membuktikan bahwa generasi Z ini lebih superior ketimbang generasi-generasi yang lain. Yang membedakan adalah bahwa generasi Z telah terpapar internet, semua manusia yang lahir ketika internet sedang merangkak lalu mendunia layak disebut sebagai generasi Z.

Secara eksplisit, hampir bisa dikatakan kita sekarang adalah bagian dari Generasi Z itu sendiri. Bagaimana tidak? Porsi serta intensitas kita dalam menggunakan internet sudah terlampau jauh – jika tidak ingin dikatakan ketergantungan –. Rasanya sangat sulit menemukan manusia yang tidak menggunakan internet dewasa ini, dan yang patut diperhatikan adalah internet telah mentrasformasikan dirinya sebagai kebutuhan primer, berdiri sejajar dengan sandang, pangan dan papan.

Tiba-tiba secara sporadis pikiran saya meraung tak menentu, mencoba mencari sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan yang menohok. Pikiran saya dengan lancangnya mempertanyakan “apakah kita masih bisa hidup tanpa internet?” atau “bagaimana jika kita membatasi penggunaan internet, apa yang selanjutnya terjadi?”

Bagi saya, pertanyaaan itu jelaslah lebih sulit ketimbang soal seleksi masuk pegawai negeri yang sedang ramai dibicarakan itu. Saya hanya mampu menjawab pertanyaan tersebut sebatas “ya” dan “bisa”, tanpa mengerti bagaimana harus menjelaskan. Dalam proses pencarian tersebut, saya membaca. Ketika itu buku Albert Camus yang saya baca, dan yang membikin terkaget-kaget adalah temuan atas pertanyaan jahanam tersebut. Untuk lebih kontesktual, maka saya kutipkan perkataan Camus:

 “Dia dengan berlebihan menggambarkan setiap bulan atau setiap hari yang kebenaran begitu sugestif bahwa tidak ada batas antara apa yang seorang manusia ingin menjadi dan siapa dia sebenarnya.” “untuk mensimulasikan benar-benar, untuk memproyeksikan dirinya sedalam mungkin dalam kehidupan yang bukan miliknya.” “itu disebut kehilangan diri sendiri untuk menemukan diri sendiri.”

Membuat saya percaya satu hal, saya hidup di sebuah dunia dalam genggaman tanpa kenyataan, semu!

Kutipan itu seketika membuat pikiran saya tercerahkan, membuat semuanya menjadi semakin jelas dan terdapat sebuah benang merah yang memposisikan kita semua sebagai korban. Ya, korban. Saya berhipotesa bahwa teknologi – dalam hal ini internet – adalah pangkal dari segala tindakan menohok yang sering kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Fragmen terakhir pada kutipan diatas – bagi saya – sudah cukup membuktikan bahwa anggapan teknologi selalu membawakan hal-hal penuh moralitas. Sampai disini semua akan relatif pada waktunya, kesemuanya jelas memiliki katup positif dan negatif yang saling bersinggungan dan membutuhkan.

Dari sebuah gengaman, kita bisa menjadi apa saja, menjadi siapa saja, dari layar sentuh persegi panjang itu pun kita bisa mendapatkan apa saja yang kita mau, informasi, hiburan, bahkan sampai pengakuan dalam kehidupan. Tapi disini saya akan membahas ilusi yang diciptakan dari teknologi hebat dalam genggaman yang bisa membuat kita menjadi budaknya dan kehilangan kesadaran kita akan realitas

Bagaimana mungkin kita tidak berdiri sebagai budak, sebagai sebuah pion yang dikendalikan tangan-tangan tak terlihat. Apa yang kita cari sehabis membuka mata? Handphone. Apa yang kita pegang sebelum memejamkan mata? Handphone. Dan itu adalah produk teknologi yang secara tidak sadar mengkontrol aktivitas kita.

Ketika terdapat perasaan sadar akan posisi kita sebagai budak, maka realitas diri kita sudahlah hangus. Kita hanya seperangkat daging yang bertindak sesuai tuntutan-tuntutan abstrak yang mengelilingi kita, terjebak dalam sebuah ilusi yang dianggap nyata padahal semu.

 Akan tetapi terlalu munafik jika saya tidak membutuhkan handphone di zaman yang memang sudah tersistem dimana semua orang diharuskan menggunakannya. Ya, alat itu mempermudah kita untuk melakukan komunikasi dan berhubungan, selain itu pun terdapat banyak fungsi lain yang memungkinkan kita mendapatkan kesenangan ataupun kebahagiaan yang memang kita butuhkan sebagai seorang manusia normal. Tapi saya merasakan ada suatu kekeliruan yang kita lakukan dalam menggunakan handphone tersebut.

Adapun menjadi jelas bahwa jawaban atas pertanyaan saya tentang apakah kita mampu dan bisa hidup tanpa internet, sudahlah mutlak tidak jawabnya. Kita sudah terlalu serius menekuni dunia yang selama ini dianggap nyata, terlalu menganggap penting semua yang tergambar dalam layar persegi panjang ponsel kita seolah-olah itu akan berpengaruh pada jalan hidup ataupun nasib. Semua orang sibuk dengan dunia semu mereka (sosial media) dan berlomba-lomba menjadi yang terbaik hanya untuk mendapat pujian dan pengakuan dengan cara mengumbar kehidupan personal. Sungguh dunia yang penuh pencitraan.

Melalui riset kecil-kecilan, saya pun memiliki beberapa tesis yang menunjukkan bahwa terdapat sebuah efek samping negatif dari akutnya penggunaan teknologi – khususnya sosial media – terhadap perilaku kita saat ini. Pertama Ketika semua orang berkomunikasi hanya dengan mengetik kata demi kata tanpa berbicara, tanpa bertemu langsung, tanpa saling menatap mata. Sesunguhnya saya merasakan suatu keanehan saat melakukan hal tersebut. Ada perasaan yang sangat sulit untuk dijelaskan tentang sebuah kekosongan atau kehampaan yang dihasilkan dalam komunikasi tersebut. Saya tidak pernah merasa benar-benar berkomunikasi dengan mereka semua, saya tetap merasa kurang tanpa kehadiran mereka semua. Ya semua itu benar-benar terasa semu dan saya tetap merasa kesepian!

Kedua, Ketika sekelompok orang berkumpul namum mereka semua hanya sibuk memainkan layar poselnya, tanpa saling berbicara, bercanda, ataupun menciptakan gelak tawa. Ketika sepasang kekasih bertemu namun saling membisu tenggelam dalam dunia semu, sembari saling mengumbar kemesraan disana. Ketika kepedulian semua orang hanya sebatas komentarnya ataupun sebuah ‘like’. Ketika kebersamaan didapat hanya dalam keramaian grup chat, semua orang hanya bertemu dan bercengkrama tanpa kehadiran yang nyata. ketika semua menjadi anti sosial dan puas dengan kenyataan khayalan! Ketika semua orang sibuk dengan sosial media mereka; instagram, twitter, facebook, dan lainnya. Merangkai kalimat indah berharap mendapat pujian, mengumbar kehidupan mereka, melihat dunia dalam sisi yang menurut saya adalah ilusi, atau sebentuk rancangan kehidupan yang sama sekali tidak nyata, yang semata-mata semua itu hanya untuk mendapatkan pengakuan sosial. Dan ketika semua itu merupakan kebutuhan semua orang, saya mendapati kebingungan dalam dunia ini, saya seperti seorang yang terasing didunia ini, dunia yang dipenuhi kepentingan, pencitraan dan pengakuan! Ya semua orang seperti keracunan dan pesakitan tapi tetap melanjutkannya dan menolak untuk sembuh. Seperti kata Camus; orang-orang kehilangan diri mereka untuk menemukan diri mereka.

Pertanyaannya, apakah keanehan ini hanya saya saja yang merasakannya di zaman ini? Atau mereka semua yang sama sekali tidak merasakan hal tersebut? Atau mereka memang menolak untuk merasakannya? Sebuah dunia fana, dimana kenyataan yang semakin pudar, kesadaran yang direduksi oleh ilusi dan dimana kita semua dipaksa untuk menerima sistem pembodohan tersebut. Hidup di keadaan semu, kebebasan semu, kebahagian semu, pengakuan semu, kepuasan semu, eksistensi semu! Dan apa yang kita peroleh tidak lebih dari kehidupan yang hiprokrit, pragmatis, anti sosial dan anti proses. Kita tidak akan memperoleh kenyataan hidup yang sesungguhnya jika kita tetap menolak untuk melihat kenyataannya dan masih berkutat dengan ilusi di layar ponsel pintar kita.

Saya pun memang bagian dari sistem tersebut, tapi dari tulisan ini, saya ingin mencoba untuk membuat asumsi tentang pemahaman kita tentang kehidupan di zaman ini.

Kesendirian bukan suatu persoalan yang akan membunuh kita, karena kesepian yang kita rasakan tidak akan hilang oleh fantasi yang tercipta dari percakapan semu. Pengalaman yang kita bagi di media sosial pun tidak akan menjadikan kita seorang yang berbahagia jika tidak ada orang lain di sekitar kita. Kita tidak akan pernah hidup di kenyataan jika kita masih senang menjadi ilusi.

 Tulisan ini bukan upaya saya untuk menolak sistem yang memang sudah menjadi kehidupan kita, ataupun keluar dari sistem tersebut. Tapi, cobalah untuk alihkan animo kita dari handphone kita, matikan kalau perlu, simpan benda itu, pergunakan seperlunya, dan rasakan perbedaan yang akan membuat kita lebih produktif, yang akan membuat kita merasa lebih hidup dan terlihat seperti manusia, bukan seperti zombi yang terus menunduk ke layar persegi panjang tersebut.

Kita bukanlah robot, kita tidak butuh alat untuk menjadikan kita makhluk sosial, karena kita semua terlahir sebagai makhluk sosial. Jangan membuang waktu kita hidup di dunia yang palsu, karena disana hanya sebuah proyeksi hubungan khayalan dan kita tidak akan pernah mejadi makhluk sosial disana. Kita hanya perlu bertemu dan saling berbicara satu sama lain, ya hanya itu yang kita butuhkan untuk menciptakan hubungan nyata, untuk menghidupkan lingkungan disekitar kita, hidup bersama dalam kehadiran dan perhatian yang nyata.

Mungkin tulisan ini hanya menjadi bualan semata, atau hanya pandangan yang terlalu berlebihan, ya kita bebas untuk menilai dan menerima atau menolak suatu pendapat. Tidak penting apakah kalian setuju dengan hal atau permasalahan yang sama dengan yang saya rasakan, karena yang terpenting saya berusaha untuk mencoba memberi kesadaran akan batas ilusi yang kita perlukan dalam hidup ini. Tulisan ini juga tidak bermaksud menyerang ataupun menyakiti individu maupun kelompok tertentu, hanya sebuah kampanye kepada sesama.

Untuk menutup tulisan sentimentil ini, saya mengajak kita semua untuk berhentilah hidup di dalam kefanaan dunia maya, karena disana kita hanya menjadi budak sistem yang semakin hebat dan kita tidak akan lebih dari angan-angan yang melayang-layang di udara, yang perlahan akan lenyap ditelan penyesalan. Raih lah kenyataan, redam fiksasi kita terhadap handphone kita, kita tidak butuh media untuk mengalihkan kesendirian. Kita hanya butuh kehadiran satu sama lain dan saling berbicara tanpa memikiran sebuah penghakiman.

Akhir kata, ayo ngopi dan ciptakan perbincangan, matikan ponsel kita dan jadi lah nyata!

NB: Sumber gambar diperoleh dari dinchan007.wordpress.com

Hanya Sebuah Pagi

selaput langit pagi
meminang gundah dalam udara mewangi
angin tropis yang menghidupkan sepi
bersama dedauan yang berguguran
debu-debu yang melayangkan pukulan
menyelimuti jelanan yang tampak buram
jika saja terhatam
mungkin gersang memang mencekam
lebih daripada malam
ketika gelap adalah ketakutan
atau hanya sebuah perasaan
cipta dalam pikiran
citra oleh pandangan
menawarkan kegelisahan
memudar kedamaian
lalu kecewa oleh pilihan

namun ini hanya sebuah pagi
sepi bukan berarti sendiri
sendiri bukan berarti mati
biar kesunyian yang perlahan pergi
sambut harapan yang akan kembali
atau simak saja suara hati
yang enggan didengarkan lagi