Lima Serpihan Moral

Judul Buku                  : Lima Serpihan Moral

Penulis                         : Umberto Eco

Penerbit                       : Octopus Publishing House

Tahun Terbit               : Cetakan I, 2016

ISBN                              : 978-602-742439-6

Tebal                             : xvi + 154 halaman

“Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana,” begitulah kata Pram, dalam Bumi Manusia. Entah mengapa saya merasa tertarik mencomot kalimat tersebut. Ya, meski dapat dikatakan sebagai sifat primordialisme dan diluar konteks, tapi inilah yang sekiranya dapat memantik kita ke topik pembahasan “Lima Serpihan Moral”.

Buku ini tercipta dari lima kumpulan esai yang ditulis Eco, Profesor Semiotik yang namanya seketika mencuat setelah menerbitkan buku berjudul The Name of the Rose. Dalam buku ini berisi lima esai, yang mencakup lima topik penting dalam kebudayaan: perang, spiritual, pers, fasisme, dan situasi menjelang pergantian milenium.

Sebagai pembuka buku ini adalah esai berjudul Renungan atas Perang, yang mencakup semua aspek dari berbagai sisi dalam pengertian perang sebagai sebuah peristiwa. Tujuan perang selama berabad-abad pertama harus kita sadari, yaitu untuk mengalahkan musuh dan memperoleh hasil rampasan atas perang itu sendiri. Perang dikritik Eco sebagai kategori terkeruh bagi kaum intelektual di mana ambiguitas terjadi di dalamnya. Dalam pernyataan sikapnya terhadap perang, terkadang kita dibingungkan dengan para intelektual yang lebih memilih diam. Bagi Eco sendiri, diam merupakan keputusan paling tragis bagi para intelektual. Pada kesimpulannya ia menjelaskan bahwa perang tak bisa dibenarkan karena—dalam ungkapan hak-hak makhluk hidup perang lebih buruk dari kejahatan, juga hal yang sia-sia.

Pada bab selanjutnya tulisan Eco ini merupakan surat balasan dari salah satu Kardinal, Carlo Maria Martini. Dalam bab ini Eco menjelaskan perdebatan etik: antara gagasan universal dengan kekuatan transenden. Eco mengatakan bahwa manusia adalah binatang yang berdiri tegak. Lanjutnya, mereka (manusia) akan lelah jika terus berbaring dalam waktu lama, itulah sebabnya manusia punya gagasan untuk berbuat sesuatu. Contoh sederhana dari etik awan yang digambarkan seperti kenyataan jasmaniah dan gagasan bahwa manusia secara instingtif menyadari jiwanya ada (atau sesuatu yang berfungsi seperti itu) hanya dengan keberadaan orang lain. Dari gambaran tersebut akan tampak bahwa etik awam berada di dasar etik alamiah. Sebagai kesimpulannya, Eco lebih memercayai bahwa etik natural—hormatnya pada religiusitas yang mendalam—bisa menemukan prinsip-prinsipnya dalam kekuatan transenden yang justru menganggap prinsip-prinsip alamiah itu tertanam di hati sebagai dasar.

Mengenai pers yang dibahas dalam bab ketiga, Eco mengemukakan pendapatnya tentang pers Italia. Mengenai hubungan pers dengan dunia politik (maksud dari pernyataanya tersebut bahwa Italia adalah negeri dimana pers bersifat bebas dan tak memihak). Dalam bab ini, Eco membeberkan semua yang terjadi dalam dunia pers dewasa ini. Dengan tambahan bahwa yang sering terjadi adalah seorang politikus mengirim artikel kepada surat kabar-surat kabar lalu muncullah kebiasaan ala pers yang menyatakan “Si anu menulis dalam kapabilitasnya sebagai pribadi”. Akhirnya esai ini menjelaskan bahwa pers tidak selamanya dapat menyatu dengan politik, dan pernyataan Eco dalam bab ini ditujukan sebagai cerminan dan memandang dunia secara mendalam.

Ur-Fasisme dalam  bab keempat buku ini dimulai pada penceritaan Eco semasa kecil ketika ia mengikuti kompetisi wajib terbuka untuk semua pemuda fasis Italia di masa pemerintahan Musolini. Namun, retorika luar biasa setelah ia merespon esai berjudul “Haruskah Kita Mati Demi Kejayaan Mussolini dan Nasib Abadi Italia” tersebut berubah. Dalam bab ini pula ia menceritakan bagaimana fasisme mendominasi Eropa sebelum Perang Dunia II. Menurutnya, fasisme tentu saja merupakan suatu kediktatoran, namun fasisme tak sepenuhnya totalitarian—tidak sejauh itu karena kelamahan filsafat ideologinya.

Pada bab terakhir buku ini memuat esainya tentang situasi menjelang pergantian milenium—menjelang tahun 2000. Pada awal bab ini menjelaskan tentang proses migrasi yang terjadi dari daerah satu ke daerah lain yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Menurutnya, pertemuan (atau pertarungan) kebudayaan ini dapat memicu pertumpahan darah dan Eco percaya bahwa sampai pada tingkat tertentu hal itu akan terjadi. Berlanjut pada intoleransi yang terbentuk dari dua konsep yang bertalian erat yaitu, fundamentalisme dan integralisme. Fundamentalisme sendiri dalam terminologi sejarah merupakan penafsiran prinsip hermeneutik, yang berkaitan dengan penafsiran kitab suci. Pada akhir bab ini mengenai hal-hal yang tak dapat ditoleransi, Eco menyimpulkan bahwa secara alamiah, hari ini kita dapat mengatakan bahwa sesudah keputusan Roma, kapasitas gabungan untuk mendefinisikan hal yang tak dapat ditoleransi justrus semakin jauh.

Kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan manusia sepatutnya menjadi perhatian yang serius. Dalam buku ini Eco telah memaparkan lima topik penting dalam kebudayaan. Seorang intelektual harus bisa memandang suatu fenomena secara obyektif dan menilainya berdasarkan kebenaran faktual. Jikalau tulisan ini kurang memuaskan, silakan membeli atau membaca sendiri bukunya 🙂

 

NB: Gambar diambil dari dokumen pribadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s