Gabriel Garcia Marquez Dan Hal-Hal yang Ingin Disampaikan Pada Kita

Terdapat suatu korelasi antara buku Laughable Loves karya Kundera dengan Memory of My Melancholy Whores karangan Gabriel Garcia Marquez. Sepertinya tidak ada hubungan antara dua penulis ini, bukan karena wilayah geografis saja yang berbeda, melainkan aliran sastra yang mereka geluti pun sangat kontras. Hipotesa yang diajukan Kundera seperti mendapat legitimasi ketika Gabriel Garcia Marquez ingin menutup karir kepenulisan nya, semua benar-benar pas, klik dan sesuai presisi. Tidak kurang, tidak lebih.

Sebelum mengakhiri profesinya sebagai penulis maha segalanya di ranah sastra Amerika Latin, Gabriel Garcia Marquez – selanjutnya disebut Gabo – sama sekali merubah plot cerita yang sudah menjadi ciri khas nya selama berkarir sebagai penulis. Gabo, hampir dalam setiap karyanya, selalu identic dengan aliran realisme magis nya.

Secara singkat, realisme magis adalah aliran sastra yang mencoba menganalisis lalu memberikan pandangan terkait permasalahan-permasalahan sosial yang sedang faktual terjadi, sampai disini memang belum terlihat perbedaan. Keunikan tersebut manakala terpancar ketika medium untuk mengejawantahkan opini terkait permasalahan sosial yang menggunakan perumpaaan yang tidak bisa dinalar.

Realisme magis menggunakan analogi yang sangat konyol, tidak mungkin ada di dunia ini dan benar-benar irasional. Namun yang ditekankan oleh salah satu aliran sastra ini bukan bentuk perumpamaan nya, melainkan substansi yang menggambarkan maksud dari pihak yang ingin mengutarakan opini tersebut. Gabo sangat piawai memadupadankan gaya kepenulisan realisme magis dengan keadaan-keadaan yang membuatnya risih, membuatnya terpaksa teriak bahwa ada yang tidak beres dengan kondisi saat ini.

Realisme magis mungkin hanya milik Gabo ketika muda, ketika semangat idealisme masih menggebu-gebu. Mungkin realisme magis hanya milik Gabo yang vokal, bertindak sesuka hati menafsirkan kehidupan dan liar tentunya. Sedangkan Gabo tua sudah semakin mantap dalam bertindak, cenderung sistematis dalam berfikir dan realis perihal masalah kehidupan.

Di penghujung karir kepenulisan dan masa beredarnya di dunia, Gabo yang sudah semakin renta mulai mengeluarkan wejangan-wejangan bagi angkatan muda dalam berbagai urusan, mulai dari yang kaitan nya jasmani maupun rohani, entah itu tentang kesehatan fisik maupun psikologis. Gabo tua lebih senang dengan hal-hal yang berbau estetika, seakan sadar bahwa masa aktif nya sudah sebentar lagi. Jadi ya izinkan terakhir kali keindahan duniawi.

Berdasarkan buku terakhirnya yang sudah diterjemahkan ke bahasa ibu kita dengan judul Para Pelacurku yang Sendu, Gabo membeberkan rahasia-rahasia yang sifatnya sangat sentimentil bagi angkatan muda khususnya. Gabo dengan senang hati menggiring pembaca untuk berfikir tentang apa yang ia maksud melalui tema yang paling membosankan nan menyiksa di dunia, ya tentang cinta.

Melalui cinta, Gabo mencoba menelurkan nasihat-nasihat yang bijak sekaligus ambivalen. Semisal kita bisa ambil contoh, pada buku terakhirnya, Gabo sangat terobesi pada kisah-kisah percintaan. Hampir seluruh isi buku terakhirnya berfokus pada masalah percintaan, bagaimana tersiksanya seseorang yang mengharapkan berlebih terhadap cinta sejati namun justru dibuat tersiksa karena kepastian tak kunjung datang.

Bisa dibilang, pada buku terakhirnya, plot cerita berkutat pada dua tema sentral yaitu kepastian dan pengharapan. Gabo dengan cerdik sekali lagi membuat dua tema tersebut menjadi semakin menyayat hati dengan kisah cinta yang getir, bisa dilihat bagaimana pak tua yang diposisikan sebagai tokoh utama hampir saja membusuk akibat cintanya tak berbalas. Hampir ingin menyudahi hidupnya dengan cara yang tidak elegan sama sekali, karena apa? Hanya karena cinta saja.

Tapi tentu Gabo tak membiarkan pembaca nya larut dalam kesedihan, justru disinilah letak ambivalensi nya. Gabo menggiring kita pada persoalan cinta, namun memaksa kita justru berfikir bahwa cinta hanyalah sesuatu yang tidak masuk akal. Menurut Gabo, ketika cinta sudah merasuki pikiran manusia, maka ia cenderung tidak bisa menggunakan akal dan terjerumus pada hal-hal yang konyol dan sebenarnya ia pun tak pernah berfikir untuk melakukan hal itu dalam keadaan sadar.

Lalu cinta yang bagaimana yang coba ditampilkan Gabo? Cinta yang sama seperti kebanyakan, dimana sang lelaki jadi pihak yang memohon dan perempuan sebagai penentu kebijakan. Maka dapat disimpulkan bahwa Gabo juga terobsesi pada wanita, itulah yang menjadi wejangan paling ciamik dari Gabo dalam buku ini. Ia menangkat tema-tema tentang perempuan dan problema nya.

Karena Gabo yang dalam konteks ini sangat menggilai perempuan, secara tidak sadar ia tentu ingin memuliakan perempuan, salah satunya dengan mencintainya. Lalu apa cuma itu cara memuliakan perempuan? Tentu tidak, Gabo juga melek keadaan sekitar dimana masih sangat banyak keadaan yang tidak menguntungkan bagi perempuan.

Memang dalam buku ini, Gabo menuliskan cerita dengan gaya yang sedikit vulgar. Namun saya yakin bukan itu maksud Gabo sebenarnya, ia justru ingin menjabarkan bahwa perempuan sudah banyak dirugikan dalam tatanan masyarakat saat ini. Misalnya Gabo memberi contoh seperti kasus prostitusi, perdagangan manusia, eksploitasi anak dibawah umur adalah sekian pemandangan yang tidak secuilpun berefek baik bagi para perempuan.

Misalnya, dalam kasus prostitusi, hampir dalam setiap kesempatan selalu pihak perempuan yang dijadikan dalang atas tindakan amoral. Tentu jelas tidak adil, dan Gabo paham akan hal itu. Maka dari itu, kasus prostitusi yang diangkat dalam novel ini dibuat sebisa mungkin pihak laki-laki yang menjadi musabab. Dan itu jelas cerdik untuk ukuran pak tua yang sebentar lagi genap seabad.

Pada akhirnya, kesimpulan daripada apa yang coba dijelaskan Gabo adalah soal moralitas. Ia secara singkat dan jelas bahwa keadaan manusia sekarang ini sangatlah miris, kita dengan giat dan lantang teriak soal moralitas tapi ternyata itu cuman pemanis lidah saja. Nyatanya kita tidak bermoral-moral amat.

Dan kenapa Gabo bicara soal moralitas? Ya karena mungkin ia sudah sadar tidak punya cukup banyak waktu untuk mengurusi hal-hal yang tidak jelas, disamping karena waktu yang terbatas itu ia juga ingin dikenal sebagai pribadi yang baik. Minimal baik di mata orang sekitarnya.

NB: Gambar diperoleh dari litreactor.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s