Mimpi Buruk Seorang Kutu Buku

Membaca adalah membunuhmu. Itulah pendapat teman saya di salah satu akun media sosial perusak seni fotografi. Awalnya saya kebingungan, maksudnya apa ini teman saya kok secara serampangan mengumpat dengan sebegitu lancangnya. Tapi, setelah selesai melahap Rumah Kertas semua menjadi terang oleh secercah pemikiran baru. Termasuk maksud dari diktum teman saya itu tadi.

Terobsesi pada kecantikan atau ketampanan? Suatu hal yang lumrah dan biasa-biasa aja. Terobsesi pada kekayaan? Itu memang tujuan hidup kita bersama bukan. Nah, kalau terobsesi pada buku? Apa pula yang dirasa, apa tidak ada hal lain yang bisa menjadi tempat bersemayam nya rasa kasih sayang kita. Terobsesi pada buku adalah hal yang tidak jelas, abstrak seperti lukisan Vincent van Gogh. Terobsesi pada buku paling hanya dalih untuk menutupi keheningan hidup kita.

Carlos Maria Dominguez pernah berujar bahwa buku adalah pengubah nasib seseorang, maka tak heran apabila sekarang ini masih banyak yang rela menjadi korban-korban buku. Mungkin beberapa hari kedepan akan bertambah banyak jumlahnya. Nilai praktis yang paling mudah dilihat adalah buku dengan ajian tidak terduga nya mampu mentransformasikan seseorang yang tadinya bebal menjadi sedikit berisi.

Belum lagi, menjadi korban-korban buku masih memiliki keuntungan tersendiri hingga saat ini. Bagi sebagian masyarakat Indonesia yang sedang dipaksa untuk memiliki kemampuan menulis dan membaca diatas rata-rata agar tidak terbelakang, keberadaan para kutu buku ini tak syak lagi sebagai agen perubahan yang bisa menyelamatkan bangsa ini dari keterbelakangan mengadopsi bahan pustaka.

Tatanan masyarakat Indonesia yang seperti itu memposisikan bahwa para kutu buku adalah orang-orang istimewa yang sangat dinantikan keberadaan nya, selain itu para kutu buku dilengkapi oleh stigma-stigma positif seperti pintar, rajin, sampai pada taraf sebagai lelaki idaman mertua. Hal-hal seperti inilah yang berperan besar guna melanggengkan hegemoni para kutu buku dalam orde di masyarakat.

Padahal tak semenyenangkan itu menjadi kutu buku. Ada juga sisi-sisi gelap yang kadang kita utarakan, karena apabila hal tersebut diungkapkan maka bukan tidak mungkin tak banyak orang-orang akan berfikir keras untuk menjadi seorang bibliofil. Sama seperti kehidupan, menjadi seorang kutu buku juga tentu ada nilai-nilai negatif bila disandingkan dengan kesenangan semata.

Seperti misalnya, anggapan yang tadi sudah disinggung mengenai pandangan seseorang terhadap kutu buku tersebut sejatinya tidaklah semua tepat sasaran. Justru malah banyak yang tidak sesuai harapan. Misalnya, orang mengkaitkan bahwa seseorang yang sering membaca buku sudah pasti akan pintar. Padahal itu bukanlah sesuatu yang mutlak.

Belakangan ini banyak justru yang kerapkali mempunyai hobi membaca buku namun tidak dibarengi dengan sifat-sifat yang semestinya, sebabnya adalah ketika menyeleksi buku yang hendak dijadikan bahan bacaan. Tak terhitung jumlah peredaran buku di Indonesia saat ini, dan dari sekian banyak vitamin tentu pasti ada racun bukan? Dari sekian banyak mutiara tersebut pastilah ada jebakan.

Begitupun dengan hobi membaca itu sendiri, ada sisi-sisi kelam yang baiknya oleh para kutu buku untuk diungkapkan. Bukan sebagai penangkal minat baca, melainkan memberikan pemahaman bahwa sesuatu yang dianggap baik sekalipun, tetap memiliki efek negatif yang sama besarnya.

 Misalnya, ketika para bibliofil sedang giat-giatnya mengumpulkan harta karun versi mereka sendiri, timbul suatu perasaan keterikatan setelahnya. Ketika para buku-buku itu sudah secara paripurna kita miliki, ada suatu keterikatan tak tertulis yang tidak dapat dijelaskan secara rasional. Perasaan tersebu terjadi tanpa permisi, dan hampir bisa dipastikan dialami oleh seluruh bibliofil kebanyakan.

Ketika koleksi sudah mencapai ratusan bahkan ribuan mustahil semua buku tersebut memiliki nilai tepat guna secara keseluruhan, pasti ada barang  satu atau dua yang sudah habis daya guna nya bagi para bibliofil. Disitulah peran keteritakan tersebut hadir, menusuk tanpa permisi, menikam tanpa henti.

Para bibliofil dengan sendirinya akan merasa berat untuk melepas anak rohani nya tersebut yang bisa dibilang sudah usang, terdapat ikatan dengan pakta kebutuhan sekaligus pengabaian disitu. Bisa saja di masa mendatang buku tersebut memiliki relevansi bagi para bibliofil, serta rasa tidak sampai hati manakala buku tersebut dilepas tanpa pengasuh lalu terabaikan.

Maka, para bibliofil pasti setuju dengan ujaran “membeli lebih susah daripada melepaskan”. Mungkin mereka bisa secara brutal membelanjakan anggaran hanya untuk memenuhi hasrat kita terhadap buku, namun tidak perdaya ketika disuruh melepaskan barang satu saja bahan pustaka yang padahal hanya dilihat-lihat atau dibaca jika ingin saja.

Selain itu, para bibliofil juga terkenal ambivalen. Mengapa ambivalen? Sebenarnya mimpi buruk ini masih memiliki keterkaitan dengan sifat para bibliofil yang sudah dijelaskan sebelumnya. Ambivalensi yang dimaksud disini adalah pada kesempatan berbeda, seorang bibliofil bisa dengan bangganya menunjukkan berapa banyak koleksi buku yang sudah ia kumpulkan. Namun dilain kesempatan, ia merasa bahwa koleksi bukunya tak ubahnya sebagai beban semata.

Yang menyebalkan adalah ketika para bibliofil secara omong kosong memperlihatkan berapa banyak koleksi yang ia dapat sambil berharap pujian dilayangkan kepadanya akibat kerja kerasnya yang agung itu. Pada titik tersebut ambivalensi belum terlihat, ia justru semakin nyata manakala tumpukan buku-buku sudah mengisi ruang-ruang yang tak semestinya ia tempati. Ia merasakan beban yang teramat berat. Bagaimana mungkin hal yang dulu kita banggakan kini berbalik menyerang kita ketika dalam keadaan sedang cinta-cintanya, begitulah sifat buku.

Lalu mengapa semua bibliofil bersikap seperti itu? Karena memang bagi mereka, buku tidaklah benar-benar seperti kumpulan kertas yang diklasifikasikan secara sistematis. Bagi mereka, tidak sesederhana itu memaknai buku.

Para bibliofil sangat merasa terikat dan sulit melepaskan buku dikarenakan baginya buku adalah lintasan perjalanan mereka dalam mencintai salah satu hal di dunia. Didalam buku bukan hanya ada informasi, melainkan ada kenangan ketika mereka memberi cap kepemilikan, terdapat pengharapan ketika buku mereka jadikan alat untuk mendekatkan nya pada ilmu pengetahuan, dan yang paling penting adanya cerita dibalik buku tersebut sampai di tangan kita seperti rela tidak membeli aksesoris lain bahkan mengurangi jatah makan sekalipun.

Pada akhirnya, para bibliofil yang tidak tahu cara mengerem hasrat berlebihan terhadap buku tersebut sudah barang tentu paham akan konsekuensi nya dikemudian hari. Dan berterimakasih lah pada Rumah Kertas yang dengan repot-repot memberitahukan mimpi buruk tersebut.

NB: Gambar diperoleh dari booksuniverseeverything.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s