Alain Badiou: Dari Maois Sampai Matematis

Dalam sebuah kesempatan, Zizek pernah menunjukkan salah satu paradoks filsafat. Zizek berkata bahwa ketika seseorang mempelajari filsafat tidak perlu membaca secara keseluruhan. “Kamu tidak perlu membaca terlalu banyak, itu hanya membuatmu bingung.” pungkas psikoanalis asal Slovenia itu.

Diktum tersebutlah yang menjadi landasan filosofis saya untuk sekedar menguraikan pemikiran Alain Badiou, salah satu pemikir Marxis kontemporer kelahiran Prancis. Disini saya mencoba menjelaskan tentang pemikiran Badiou khususnya mengenai kelahiran Marxisme versinya. Penjabaran ini sama sekali tidak menyinggung konteks historis kelahiran filsafat Badiou.

Kiranya perlu sedikit mengenalkan siapa sosok Badiou. Lahir dengan nama Alain Badiou, sama seperti masyarakat Prancis pada umumnya, ia pun merupakan seorang yang menjadikan Prancis sebagai tanah airnya yang kedua. Badiou seangkatan dengan Antonio Negri, Slavoj Zizek dan Jacques Lacan sebagai anggota Marxis kontemporer yang terkenal. Baca lebih lanjut

Iklan

Mimpi Buruk Seorang Kutu Buku

Membaca adalah membunuhmu. Itulah pendapat teman saya di salah satu akun media sosial perusak seni fotografi. Awalnya saya kebingungan, maksudnya apa ini teman saya kok secara serampangan mengumpat dengan sebegitu lancangnya. Tapi, setelah selesai melahap Rumah Kertas semua menjadi terang oleh secercah pemikiran baru. Termasuk maksud dari diktum teman saya itu tadi.

Terobsesi pada kecantikan atau ketampanan? Suatu hal yang lumrah dan biasa-biasa aja. Terobsesi pada kekayaan? Itu memang tujuan hidup kita bersama bukan. Nah, kalau terobsesi pada buku? Apa pula yang dirasa, apa tidak ada hal lain yang bisa menjadi tempat bersemayam nya rasa kasih sayang kita. Terobsesi pada buku adalah hal yang tidak jelas, abstrak seperti lukisan Vincent van Gogh. Terobsesi pada buku paling hanya dalih untuk menutupi keheningan hidup kita.

Carlos Maria Dominguez pernah berujar bahwa buku adalah pengubah nasib seseorang, maka tak heran apabila sekarang ini masih banyak yang rela menjadi korban-korban buku. Mungkin beberapa hari kedepan akan bertambah banyak jumlahnya. Nilai praktis yang paling mudah dilihat adalah buku dengan ajian tidak terduga nya mampu mentransformasikan seseorang yang tadinya bebal menjadi sedikit berisi. Baca lebih lanjut

Gabriel Garcia Marquez Dan Hal-Hal yang Ingin Disampaikan Pada Kita

Terdapat suatu korelasi antara buku Laughable Loves karya Kundera dengan Memory of My Melancholy Whores karangan Gabriel Garcia Marquez. Sepertinya tidak ada hubungan antara dua penulis ini, bukan karena wilayah geografis saja yang berbeda, melainkan aliran sastra yang mereka geluti pun sangat kontras. Hipotesa yang diajukan Kundera seperti mendapat legitimasi ketika Gabriel Garcia Marquez ingin menutup karir kepenulisan nya, semua benar-benar pas, klik dan sesuai presisi. Tidak kurang, tidak lebih.

Sebelum mengakhiri profesinya sebagai penulis maha segalanya di ranah sastra Amerika Latin, Gabriel Garcia Marquez – selanjutnya disebut Gabo – sama sekali merubah plot cerita yang sudah menjadi ciri khas nya selama berkarir sebagai penulis. Gabo, hampir dalam setiap karyanya, selalu identic dengan aliran realisme magis nya.

Secara singkat, realisme magis adalah aliran sastra yang mencoba menganalisis lalu memberikan pandangan terkait permasalahan-permasalahan sosial yang sedang faktual terjadi, sampai disini memang belum terlihat perbedaan. Keunikan tersebut manakala terpancar ketika medium untuk mengejawantahkan opini terkait permasalahan sosial yang menggunakan perumpaaan yang tidak bisa dinalar. Baca lebih lanjut

Cantik itu Tidak Akan Pernah Relatif

Seringkali dalam sebuah perjumpaan ataupun obrolan dengan kolega, saya mendapati diktum “cantik itu relatif” karena menurut sebagian pihak cinta memang tak bertaraf. Kecantikan diposisikan nisbi, abstrak dan tidak riil. Namun lama kelamaan, anggapan tersebut menemui jalan buntu. Berangkat dari tesis bahwa semua yang mengada di dunia ini sejatinya sudah dikonstrusikan dan dibuat sedemikian rupa, termasuk juga kecantikan.

Secara tidak sadar, kita mempercayai bahwa kecantikan adalah sesuatu yang terberikan secara alamiah. Sama seperti bakat, kecantikan adalah pemberian dari Tuhan kepada makhluk-Nya tanpa bisa diganggu gugat. Namun jika kita mengkaji ulang, kecantikan sekarang ini tak ubahnya seperti sebuah proses, sebuah tujuan yang diinginkan setiap perempuan.

Maka tak heran sekarang perempuan cantik sudah banyak sekali jumlahnya, karena memang kecantikan itu adalah sebuah tujuan bersama – khususnya pihak perempuan. Dengan mengkonsumsi ritual-ritual kecantikan secara berkala, niscaya kecantikan akan datang menghampiri sang perempuan. Baca lebih lanjut

Percikan Pemikiran Hegel dan Feuerbach Dalam Filsafat Marxis

Marx adalah penafsir paling ulung tentang dunia. Seolah-olah ia ditakdirkan untuk menebak jalan pikiran Tuhan mengenai hakikat dunia dan perkembangan nya, namun percaya atau tidak untuk bisa berada dalam posisi yang sedemikian agung tersebut, ternyata Marx masihlah dipengaruhi oleh beberapa tokoh filosof yang lain. Marx sendiri mengakui bahwa ia memang terpengaruh oleh beberapa gagasan filsuf lain.

Perkembangan pemikiran Marx terjadi dalam rentang waktu yang panjang, semenjak Marx muda hingga menua proses akselerasi pemikiran nya tidak pernah berhenti di satu titik nyaman. Ia terus berkembang dikemudian hari. Perkembangan pemikiran tersebut juga nantinya akan berpengaruh pada pendekatan yang dihasilkan Marx, bidang yang akan Marx kritisi sampai analisis yang berimbas pada teori yang Marx temukan.

Namun tak sampai disitu, meskipun ada kalanya Marx belajar dari gagasan-gagasan filsuf lain yang menurutnya baik dan benar, Marx tetap tak luput untuk melayangkan kritik atas gagasan yang ia kagumi. Kritik itulah yang kemudian membawa Marx kepada pengukuhan sebagai seorang teoritis paling berpengaruh, jauh melampaui filsuf yang gagasan nya ia adopsi. Baca lebih lanjut

Perbudakan Seksual dan Bagaimana Memahami Citra Perempuan

“Keada’an lelaki dan perempoean haroes sama rata. Kehendakan ini dimana-mana dibitjarakan dan tertoelis dan sering kali dengan kebentjian dan perkata’an jang tadjam.”

Frasa diatas merupakan penggalan dari materi yang dibawakan oleh Saudari Djojoadigoeno, seorang perwakilan Wanita Oetomo yang hadir dalam Kongres Perempuan Nasional pertama di Yogyakarta. Kongres Perempuan pertama lahir tak jauh dari Sumpah Pemuda, masih ditahun yang sama hanya berbeda bulan. Kongres tersebut berlangsung pada 22-25 Desember 1928.

Di aras tersebut, pemikiran yang diutarakan oleh Saudari Djojoadigoeno sudah maju beberapa langkah. Dengan keterbatasan ruang gerak yang sangat minim yang dialami perempuan pada masa pergerakan nasional, belum lagi struktur masyarakat feodal yang sangat tidak mendukung perempuan untuk keluar dari ranah domestiknya. Baca lebih lanjut

Diskusi Tentang Kehampaan, Realitas dan Ilusi yang Diperlukan

Oleh: Kadek Aswin Yasa dan Kahfi Ananda Giatama

 Ada sebuah pilihan untuk memikirkan hidup atau hanya menjalani hidup; tapi kita memilih untuk memahami hidup. Ya memahami hidup dalam kenyataan bukan menjalani hidup dalam kesemuan”.

Dalam setiap fase kehidupan, tentunya diperlukan suatu perubahan untuk menjadi versi yang lebih baik. Semua yang ada di dunia ini pastilah berubah dan senantiasa akan terus berubah. Makhluk hidup, binatang, sistem atau apapun yang tidak bisa disebutkan satu persatu memang harus berubah. Setidaknya untuk melawan tuntutan zaman.

Zaman kini sudah berubah, satu yang kentara adalah dengan lahirnya Generasi Z. Sebuah generasi baru yang dihasilkan peradaban manusia, terbentang pada periode medio 1990-an hingga sekarang. Menurut spekulasi saya, Generasi Z menjadi kontributor paling masif untuk perihal populasi dunia. Setidaknya untuk saat ini.

Lalu apakah Generasi Z itu sendiri? Sebenarnya, Generasi Z adalah bentuk ekstensi atau penyempurnaan dari generasi terdahulu (Generasi Y atau Milenial). Namun terdapat satu fakta menarik yang membuktikan bahwa generasi Z ini lebih superior ketimbang generasi-generasi yang lain. Yang membedakan adalah bahwa generasi Z telah terpapar internet, semua manusia yang lahir ketika internet sedang merangkak lalu mendunia layak disebut sebagai generasi Z.

Secara eksplisit, hampir bisa dikatakan kita sekarang adalah bagian dari Generasi Z itu sendiri. Bagaimana tidak? Porsi serta intensitas kita dalam menggunakan internet sudah terlampau jauh – jika tidak ingin dikatakan ketergantungan –. Rasanya sangat sulit menemukan manusia yang tidak menggunakan internet dewasa ini, dan yang patut diperhatikan adalah internet telah mentrasformasikan dirinya sebagai kebutuhan primer, berdiri sejajar dengan sandang, pangan dan papan.

Tiba-tiba secara sporadis pikiran saya meraung tak menentu, mencoba mencari sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan yang menohok. Pikiran saya dengan lancangnya mempertanyakan “apakah kita masih bisa hidup tanpa internet?” atau “bagaimana jika kita membatasi penggunaan internet, apa yang selanjutnya terjadi?”

Bagi saya, pertanyaaan itu jelaslah lebih sulit ketimbang soal seleksi masuk pegawai negeri yang sedang ramai dibicarakan itu. Saya hanya mampu menjawab pertanyaan tersebut sebatas “ya” dan “bisa”, tanpa mengerti bagaimana harus menjelaskan. Dalam proses pencarian tersebut, saya membaca. Ketika itu buku Albert Camus yang saya baca, dan yang membikin terkaget-kaget adalah temuan atas pertanyaan jahanam tersebut. Untuk lebih kontesktual, maka saya kutipkan perkataan Camus:

 “Dia dengan berlebihan menggambarkan setiap bulan atau setiap hari yang kebenaran begitu sugestif bahwa tidak ada batas antara apa yang seorang manusia ingin menjadi dan siapa dia sebenarnya.” “untuk mensimulasikan benar-benar, untuk memproyeksikan dirinya sedalam mungkin dalam kehidupan yang bukan miliknya.” “itu disebut kehilangan diri sendiri untuk menemukan diri sendiri.”

Membuat saya percaya satu hal, saya hidup di sebuah dunia dalam genggaman tanpa kenyataan, semu!

Kutipan itu seketika membuat pikiran saya tercerahkan, membuat semuanya menjadi semakin jelas dan terdapat sebuah benang merah yang memposisikan kita semua sebagai korban. Ya, korban. Saya berhipotesa bahwa teknologi – dalam hal ini internet – adalah pangkal dari segala tindakan menohok yang sering kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Fragmen terakhir pada kutipan diatas – bagi saya – sudah cukup membuktikan bahwa anggapan teknologi selalu membawakan hal-hal penuh moralitas. Sampai disini semua akan relatif pada waktunya, kesemuanya jelas memiliki katup positif dan negatif yang saling bersinggungan dan membutuhkan.

Dari sebuah gengaman, kita bisa menjadi apa saja, menjadi siapa saja, dari layar sentuh persegi panjang itu pun kita bisa mendapatkan apa saja yang kita mau, informasi, hiburan, bahkan sampai pengakuan dalam kehidupan. Tapi disini saya akan membahas ilusi yang diciptakan dari teknologi hebat dalam genggaman yang bisa membuat kita menjadi budaknya dan kehilangan kesadaran kita akan realitas

Bagaimana mungkin kita tidak berdiri sebagai budak, sebagai sebuah pion yang dikendalikan tangan-tangan tak terlihat. Apa yang kita cari sehabis membuka mata? Handphone. Apa yang kita pegang sebelum memejamkan mata? Handphone. Dan itu adalah produk teknologi yang secara tidak sadar mengkontrol aktivitas kita.

Ketika terdapat perasaan sadar akan posisi kita sebagai budak, maka realitas diri kita sudahlah hangus. Kita hanya seperangkat daging yang bertindak sesuai tuntutan-tuntutan abstrak yang mengelilingi kita, terjebak dalam sebuah ilusi yang dianggap nyata padahal semu.

 Akan tetapi terlalu munafik jika saya tidak membutuhkan handphone di zaman yang memang sudah tersistem dimana semua orang diharuskan menggunakannya. Ya, alat itu mempermudah kita untuk melakukan komunikasi dan berhubungan, selain itu pun terdapat banyak fungsi lain yang memungkinkan kita mendapatkan kesenangan ataupun kebahagiaan yang memang kita butuhkan sebagai seorang manusia normal. Tapi saya merasakan ada suatu kekeliruan yang kita lakukan dalam menggunakan handphone tersebut.

Adapun menjadi jelas bahwa jawaban atas pertanyaan saya tentang apakah kita mampu dan bisa hidup tanpa internet, sudahlah mutlak tidak jawabnya. Kita sudah terlalu serius menekuni dunia yang selama ini dianggap nyata, terlalu menganggap penting semua yang tergambar dalam layar persegi panjang ponsel kita seolah-olah itu akan berpengaruh pada jalan hidup ataupun nasib. Semua orang sibuk dengan dunia semu mereka (sosial media) dan berlomba-lomba menjadi yang terbaik hanya untuk mendapat pujian dan pengakuan dengan cara mengumbar kehidupan personal. Sungguh dunia yang penuh pencitraan.

Melalui riset kecil-kecilan, saya pun memiliki beberapa tesis yang menunjukkan bahwa terdapat sebuah efek samping negatif dari akutnya penggunaan teknologi – khususnya sosial media – terhadap perilaku kita saat ini. Pertama Ketika semua orang berkomunikasi hanya dengan mengetik kata demi kata tanpa berbicara, tanpa bertemu langsung, tanpa saling menatap mata. Sesunguhnya saya merasakan suatu keanehan saat melakukan hal tersebut. Ada perasaan yang sangat sulit untuk dijelaskan tentang sebuah kekosongan atau kehampaan yang dihasilkan dalam komunikasi tersebut. Saya tidak pernah merasa benar-benar berkomunikasi dengan mereka semua, saya tetap merasa kurang tanpa kehadiran mereka semua. Ya semua itu benar-benar terasa semu dan saya tetap merasa kesepian!

Kedua, Ketika sekelompok orang berkumpul namum mereka semua hanya sibuk memainkan layar poselnya, tanpa saling berbicara, bercanda, ataupun menciptakan gelak tawa. Ketika sepasang kekasih bertemu namun saling membisu tenggelam dalam dunia semu, sembari saling mengumbar kemesraan disana. Ketika kepedulian semua orang hanya sebatas komentarnya ataupun sebuah ‘like’. Ketika kebersamaan didapat hanya dalam keramaian grup chat, semua orang hanya bertemu dan bercengkrama tanpa kehadiran yang nyata. ketika semua menjadi anti sosial dan puas dengan kenyataan khayalan! Ketika semua orang sibuk dengan sosial media mereka; instagram, twitter, facebook, dan lainnya. Merangkai kalimat indah berharap mendapat pujian, mengumbar kehidupan mereka, melihat dunia dalam sisi yang menurut saya adalah ilusi, atau sebentuk rancangan kehidupan yang sama sekali tidak nyata, yang semata-mata semua itu hanya untuk mendapatkan pengakuan sosial. Dan ketika semua itu merupakan kebutuhan semua orang, saya mendapati kebingungan dalam dunia ini, saya seperti seorang yang terasing didunia ini, dunia yang dipenuhi kepentingan, pencitraan dan pengakuan! Ya semua orang seperti keracunan dan pesakitan tapi tetap melanjutkannya dan menolak untuk sembuh. Seperti kata Camus; orang-orang kehilangan diri mereka untuk menemukan diri mereka.

Pertanyaannya, apakah keanehan ini hanya saya saja yang merasakannya di zaman ini? Atau mereka semua yang sama sekali tidak merasakan hal tersebut? Atau mereka memang menolak untuk merasakannya? Sebuah dunia fana, dimana kenyataan yang semakin pudar, kesadaran yang direduksi oleh ilusi dan dimana kita semua dipaksa untuk menerima sistem pembodohan tersebut. Hidup di keadaan semu, kebebasan semu, kebahagian semu, pengakuan semu, kepuasan semu, eksistensi semu! Dan apa yang kita peroleh tidak lebih dari kehidupan yang hiprokrit, pragmatis, anti sosial dan anti proses. Kita tidak akan memperoleh kenyataan hidup yang sesungguhnya jika kita tetap menolak untuk melihat kenyataannya dan masih berkutat dengan ilusi di layar ponsel pintar kita.

Saya pun memang bagian dari sistem tersebut, tapi dari tulisan ini, saya ingin mencoba untuk membuat asumsi tentang pemahaman kita tentang kehidupan di zaman ini.

Kesendirian bukan suatu persoalan yang akan membunuh kita, karena kesepian yang kita rasakan tidak akan hilang oleh fantasi yang tercipta dari percakapan semu. Pengalaman yang kita bagi di media sosial pun tidak akan menjadikan kita seorang yang berbahagia jika tidak ada orang lain di sekitar kita. Kita tidak akan pernah hidup di kenyataan jika kita masih senang menjadi ilusi.

 Tulisan ini bukan upaya saya untuk menolak sistem yang memang sudah menjadi kehidupan kita, ataupun keluar dari sistem tersebut. Tapi, cobalah untuk alihkan animo kita dari handphone kita, matikan kalau perlu, simpan benda itu, pergunakan seperlunya, dan rasakan perbedaan yang akan membuat kita lebih produktif, yang akan membuat kita merasa lebih hidup dan terlihat seperti manusia, bukan seperti zombi yang terus menunduk ke layar persegi panjang tersebut.

Kita bukanlah robot, kita tidak butuh alat untuk menjadikan kita makhluk sosial, karena kita semua terlahir sebagai makhluk sosial. Jangan membuang waktu kita hidup di dunia yang palsu, karena disana hanya sebuah proyeksi hubungan khayalan dan kita tidak akan pernah mejadi makhluk sosial disana. Kita hanya perlu bertemu dan saling berbicara satu sama lain, ya hanya itu yang kita butuhkan untuk menciptakan hubungan nyata, untuk menghidupkan lingkungan disekitar kita, hidup bersama dalam kehadiran dan perhatian yang nyata.

Mungkin tulisan ini hanya menjadi bualan semata, atau hanya pandangan yang terlalu berlebihan, ya kita bebas untuk menilai dan menerima atau menolak suatu pendapat. Tidak penting apakah kalian setuju dengan hal atau permasalahan yang sama dengan yang saya rasakan, karena yang terpenting saya berusaha untuk mencoba memberi kesadaran akan batas ilusi yang kita perlukan dalam hidup ini. Tulisan ini juga tidak bermaksud menyerang ataupun menyakiti individu maupun kelompok tertentu, hanya sebuah kampanye kepada sesama.

Untuk menutup tulisan sentimentil ini, saya mengajak kita semua untuk berhentilah hidup di dalam kefanaan dunia maya, karena disana kita hanya menjadi budak sistem yang semakin hebat dan kita tidak akan lebih dari angan-angan yang melayang-layang di udara, yang perlahan akan lenyap ditelan penyesalan. Raih lah kenyataan, redam fiksasi kita terhadap handphone kita, kita tidak butuh media untuk mengalihkan kesendirian. Kita hanya butuh kehadiran satu sama lain dan saling berbicara tanpa memikiran sebuah penghakiman.

Akhir kata, ayo ngopi dan ciptakan perbincangan, matikan ponsel kita dan jadi lah nyata!

NB: Sumber gambar diperoleh dari dinchan007.wordpress.com