Alain Badiou: Dari Maois Sampai Matematis

Dalam sebuah kesempatan, Zizek pernah menunjukkan salah satu paradoks filsafat. Zizek berkata bahwa ketika seseorang mempelajari filsafat tidak perlu membaca secara keseluruhan. “Kamu tidak perlu membaca terlalu banyak, itu hanya membuatmu bingung.” pungkas psikoanalis asal Slovenia itu.

Diktum tersebutlah yang menjadi landasan filosofis saya untuk sekedar menguraikan pemikiran Alain Badiou, salah satu pemikir Marxis kontemporer kelahiran Prancis. Disini saya mencoba menjelaskan tentang pemikiran Badiou khususnya mengenai kelahiran Marxisme versinya. Penjabaran ini sama sekali tidak menyinggung konteks historis kelahiran filsafat Badiou.

Kiranya perlu sedikit mengenalkan siapa sosok Badiou. Lahir dengan nama Alain Badiou, sama seperti masyarakat Prancis pada umumnya, ia pun merupakan seorang yang menjadikan Prancis sebagai tanah airnya yang kedua. Badiou seangkatan dengan Antonio Negri, Slavoj Zizek dan Jacques Lacan sebagai anggota Marxis kontemporer yang terkenal. Baca lebih lanjut

Iklan

Percikan Pemikiran Hegel dan Feuerbach Dalam Filsafat Marxis

Marx adalah penafsir paling ulung tentang dunia. Seolah-olah ia ditakdirkan untuk menebak jalan pikiran Tuhan mengenai hakikat dunia dan perkembangan nya, namun percaya atau tidak untuk bisa berada dalam posisi yang sedemikian agung tersebut, ternyata Marx masihlah dipengaruhi oleh beberapa tokoh filosof yang lain. Marx sendiri mengakui bahwa ia memang terpengaruh oleh beberapa gagasan filsuf lain.

Perkembangan pemikiran Marx terjadi dalam rentang waktu yang panjang, semenjak Marx muda hingga menua proses akselerasi pemikiran nya tidak pernah berhenti di satu titik nyaman. Ia terus berkembang dikemudian hari. Perkembangan pemikiran tersebut juga nantinya akan berpengaruh pada pendekatan yang dihasilkan Marx, bidang yang akan Marx kritisi sampai analisis yang berimbas pada teori yang Marx temukan.

Namun tak sampai disitu, meskipun ada kalanya Marx belajar dari gagasan-gagasan filsuf lain yang menurutnya baik dan benar, Marx tetap tak luput untuk melayangkan kritik atas gagasan yang ia kagumi. Kritik itulah yang kemudian membawa Marx kepada pengukuhan sebagai seorang teoritis paling berpengaruh, jauh melampaui filsuf yang gagasan nya ia adopsi. Baca lebih lanjut

Marxisme menurut Njoto

Membahas magnum opus dari Karl Marx memang tak ada habis-habisnya, seolah-olah semua jawaban problema kemasyarakatan dewasa ini sudah dapat diprediksi oleh pria jenggot tebal itu. Itulah mengapa mempelajari ajaran Marx selalu mengasikkan. Meskipun sulit, namun bisa kita imbangi dengan membaca interpretasi para Marxis yang sudah tidak diragukan lagi keabsahan nya.

Menurut saya, dalam skup nasional ini seorang Marxis yang paling kredibel adalah kawan Njoto. Tak perlu dijelaskan latarbelakang sang tokoh ini, karena itu jauh dari esensi penulisan artikel ini. Yang patut diacungi jempol dari seorang Njoto adalah kelihaian nya dalam menafsirkan ajaran Marx yang holistik dan komprehensif. Baca lebih lanjut

Mengenal Lebih Dekat Materialisme Historis

Banyak filosof yang menelurkan teori-teori fundamental hingga sekarang, kegiatan itu sudah menjadi visi dan misi profesi ini. Namun tak jarang pula yang lenyap ditelan jaman, entah itu karena tidak mampu menjawab permasalahan sosial pada konteks masa tersebut ataupun dianggap sesat karena menyalahi aturan baku yang sudah disetujui bersama.

Dari teori yang sudah dianggap usang dan tak dianggap tersebutlah lahir teori makro yang masih dianut hingga sekarang. Secara empiris, teori makro yang masih ajeg saat ini merasakan keuntungan berupa pengakuan berlebih atas teori usang tersebut. Mengapa? Karena mustahil teori makro tersebut bisa dijunjung jika tidak ada sesuatu yang gagal.

Diantara segelintir teori makro yang masih hidup dan dijadikan pedoman, terselip nama materialisme historis yang digagas oleh Karl Marx. Meskipun jasadnya telah punah dimangsa rayap, namun pemikiran Marx tetap hidup. Pijar pemikiran Marx salah satunya terbukti oleh teori materialisme historis. Baca lebih lanjut

Selayang Pandang Filsafat Barat

Stereotip filsafat dalam konstelasi kemasyarakatan kita saat ini masih diliputi oleh ketakutan dan kecemasan, sehingga keberanian pun akan mengambang dan perkembangan pada nyatanya akan menjadi sebuah keusangan belaka. Aduh kok malah berfilsafat.

Berbicara mengenai filsafat berarti menyinggung tentang salah satu ilmu tertua di dunia hingga saat ini, disamping sejarah tentunya. Dalam perkembangan disiplin ilmu ini, banyak kemajuan progresif yang berbanding lurus dengan segala bentuk friksi dan pertentangan yang inheren didalamnya. Baca lebih lanjut